MOMS sering panik ketika si kecil demam lalu segera memberikan antibiotik untuk meredakannya? Anda tidak sendiri karena banyak orangtua masih salah kaprah dalam penggunaan antibiotik.
Bagi para orangtua, sumber informasi untuk memahami pencegahan, gejala, dan penanganan suatu penyakit amatlah beragam. Dokter dari berbagai spesialisasi menyumbangkan wawasan dan pengetahuan mereka guna membuka mata masyarakat soal hidup sehat. Namun sayang, salah kaprah masih dilakukan, termasuk soal pemberian antibiotik.
“Kesalahan soal penggunaan antibiotik, pertama, diagnosa dokter yang tidak tepat dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah soal infeksi,” kata Zunilda Dj Sadikin dari Department Clinical Pharmacology FMUI/CMH kepada okezone usai Seminar dan Diskusi Panel “Resistensi Mikroba: Mengapa dan Apa yang Harus Kita Lakukan?” di Aula FKUI, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2011).
Zunilda menegaskan, antibiotik hanya diperlukan pasien dengan diagnosa penyakit disebabkan oleh kuman atau bakteri, seperti radang paru-paru, pembengkakan kaki akibat diabetes, dan sebagainya.
“Banyak orangtua yang anaknya demam, dikasih antibotik, padahal enggak perlu, karena demam disebabkan oleh infeksi, bukan kuman. Demam merupakan reaksi tubuh terhadap penyakit, enggak serta merta karena infeksi. Antibiotik dikasih kalau memang demamnya ada masalah kekurangan gizi, khawatirnya radang paru-paru,” paparnya.
Sebaiknya, orangtua melakukan observasi selama tiga hari. Bila panas belum juga turun diperparah dengan masalah diare disertai darah, maka antibiotik bisa menjadi jawaban. Penyakit lain yang biasa ada di masyarakat dan tidak memerlukan antibiotik, misalnya flu (diakibatkan oleh virus), diare yang belum disertai darah, dan demam berdarah.
“Demam berdarah yang ditakuti bukan demamnya, tapi kekurangan cairan. Itu kan infus yang dibutuhkan, bukan antibiotik,” tandasnya.
Kalau dipaksakan minum antibiotik, diimbuhkan Zunilda, kuman baik yang tadinya ada di dalam tubuh akan mati. Kondisi ini akan merugikan, karena bila suatu hari tubuh terserang penyakit akibat kuman, kuman bisa bilang say goodbye, antibiotiknya sudah tidak ampuh lagi.
“Kalau kemudian diambil langkah cari antibiotik yang masih kuat melawan sakitnya, makin sering gonta-ganti antibiotik malah makin mengancam tubuh. Fungsi antibiotik yang tadinya membunuh kuman jadi tidak efektif,” tegasnya.
Entri Populer
-
1. SEXY SCISSOR Setelah makan malam dengan pasangan, saatnya menikmati “ desert ” yang superseksi. Berbaringlah telentang di at...
-
Inilah tehnik rahasia yang jarang sekali diketahui oleh para Pria, karena kebanyakan pria hanyalah mengandalkan insting & naluri alami,...
-
Hubungan intim yang menggairahkan biasanya melibatkan berbagai variasi ketika bercinta. Karena itu kami ingin membagikan aneka posisi favo...
-
Meskipun berhubungan seks sangat nikmat untuk dirasakan, namun secara umum harus diakui ada beberapa resiko yang mengakibatkannya. Resiko ...
-
Pijat clitoris, keterampilan sensasional yang bisa anda coba saat bercinta dengan pasangan. Banyak pasangan menggunakan tipuan kecil pad...
-
BINGUNG membaca pikiran pasangan ketika sedang horny ? Tandai saja dengan sinyal-sinyal ini. Berbeda dengan pria yang sedikit terbuka, wan...
-
DI luar manfaat untuk ciptakan kenikmatan, seks juga menjadi latihan pengencangan otot dan stamina menjadi fit. Lalu, posisi apa saja ya...
-
Bagaimana sih ciri-ciri wanita atau gadis yang masih perawan? Begitulah pertanyaan yang sering ada di pikiran pria yang sedang pacaran ata...
-
Kami tidak perlu mengatakan kepada Anda bahwa di hari ini dan usia untuk membujuk kekasih Anda untuk fellate Anda dapat sedikit da...
-
BERMINAT untuk menciptakan agenda bercinta yang sensasional? Kuncinya jangan hanya menekankan gerakan seksual, tapi juga perhatikan sisi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar