Kedua sifat ini mempunyai plus minus, selama penempatan kedua sifat
tersebut memang tepat tentunya hasilnya plus, sebaliknya kalau salah
penempatan menjadi minus. Beberapa orang tua memiliki sifat cerewet dan
keras kepala yang membuat anggota keluarganya menjadi bingung. Bagaimana
menghadapi orang tua yang makin cerewet dan keras kepala?
Seseorang dikatakan berusia lanjut ketika sudah masuk usia 60 tahun ke
atas dan merupakan salah satu fase yang harus dilalui oleh seseorang.
Saat memasuki fase ini terjadi penurunan sistem tubuh dan juga fungsi
kognitifnya.
"Orang tua yang makin cerewet dan keras kepala kadang membuat bingung,
mau dilawan tapi itu orangtua sendiri, kalau tidak dilawan bikin sakit
hati. Untuk mengatasinya anggota keluarga sebaiknya yang lebih mengalah
dan berusaha beradaptasi dengan kondisi orang tua tersebut," ujar Dr
Petrin Redayani LS, SpKJ.
Dr Petrin menuturkan lansia merupakan salah satu fase yang krisis,
karena pada saat itu terjadi perubahan fisik (otot melemah dan lambat
berpikir), perubahan emosional yang terkadang menjadi lebih sensitif,
serta menjadi kurang aktif (tadinya bekerja sekarang sudah pensiun).
"Sedangkan penurunan fungsi kognitif seperti pikun bisa dilatih atau
dicegah dengan cara tetap aktif, sering bersosialisasi, berkomunikasi,
tidak membatasi kegiatan dan membiarkannya melakukan hal-hal yang dia
senangi. Bagi lansia yang namanya teman adalah sesuatu yang sangat
penting," ungkap dokter dari divisi geriatri departemen psikiatri
FKUI-RSCM.
dr Arya Govinda Rooesheroe, SpPD, FINASIM dari divisi geriatri
departemen penyakit dalam FKUI-RSCM menuturkan masalah lain yang
dihadapi seiring bertambahnya usia adalah otot menjadi mudah kaku,
sering bermasalah dengan tulang (keropos atau pengapuran) dan rentan
terhadap berbagai penyakit.
"Dampaknya adalah menerima berbagai pengobatan atau terapi. Tapi harus
hati-hati karena fungsi ginjal lansia sudah tidak optimal, kalau terlalu
banyak obat atau berlebihan bisa menjadi tidak tepat guna atau
meracuni," ujar dr Arya.
Sementara itu menurut dr Wanarani Aries, SpRM terapi pengobatan untuk lansia didasarkan pada tatakelola berbasis risiko, yaitu:
1. Risiko jatuh, orang yang lanjut usia lebih rentan terjatuh dibandingkan dengan orang dewasa muda.
2. Risiko malnutrisi, lansia rentan mengalami kekurangan gizi, terutama
jika ia sulit atau tidak mau makan yang bisa menyebabkan tubuh lemas dan
kesadaran menurun.
3. Risiko mistreatment, saat terapi ada berbagai obat yang harus
dikonsumsi lansia padahal ginjal sudah tidak optimal dan berisiko
meracuni tubuh.
4. Tatakelola penelantaran lansia, penelantaran disini bisa dilakukan
secara sengaja atau tidak sengaja karena ketidaktahuan keluarga.
Meski demikian karakter orang tua yang sulit dipahami ini bisa
dipersiapkan sejak seseorang masih remaja atau dewasa muda yaitu dengan
melakukan komunikasi yang baik dengan keluarga dan sosial.
Dr Petrin dan dr Arya memberikan beberapa tips yang harus dipersiapkan
untuk meningkatkan kualitas hidup orang tua atau lansia, yaitu:
1. Melakukan olahraga atau aktivitas jasmani yang rutin, misalnya dengan
senam bersama (untuk melatih koordinasi) atau berjalan-jalan.
2. Program makan yang diatur, menyesuaikan komposisi makan dengan
aktivitas dan kegiatan agar tidak berlebihan yang bisa memicu kegemukan
(menjadi faktor risiko berbagai penyakit) dan juga tidak kekurangan.
3. Melakukan pemeriksaan berkala sejak berusia 40 tahun, terutama jika
memiliki faktor risiko penyakit tertentu dari keluarganya.
4. Tetap melakukan aktivitas sosial, hal ini tidak hanya menguntungkan
fisik tapi juga mental, seperti menimbulkan rasa gembira dan merangsang
stimulus otak.
5. Menyadari bahwa lansia adalah fase yang harus dihadapi, sehingga
seseorang lebih bisa menerima perubahan hidupnya serta mendekatkan
antara realitas yang ada dengan harapan yang dimiliki.
6. Melakukan komunikasi inter generasi dan juga dengan tetangga atau
sosial, ajaklah orang tua mengobrol dan mengenang masa lalu adalah hal
yang sangat indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar